Hai Wanita! Inilah Penyebab dan Jenis-jenis Keputihan yang Wajib Diketahui

Keputihan adalah kondisi keluarnya cairan atau lendir dari jalan lahir (vagina). Hal ini sering mengganggu dan membuat cemas kaum wanita. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua keputihan adalah hal yang buruk. Keputihan dapat menjadi hal yang normal dan dapat juga menjadi suatu kelainan atau penyakit bergantung pada karakteristik keputihan yang terjadi.

Penyebab keputihan

Penyebab munculnya keputihan adalah adanya produksi cairan oleh kelenjar yang ada pada dinding vagina dan leher rahim dalam kondisi normal/fisiologis. Produksi cairan/lendir vagina akan meningkat seiring dengan perubahan hormon saat menjelang menstruasi dan seusai menstruasi.

Namun, keputihan juga dapat muncul akibat adanya organisme seperti bakteri dan jamur yang tumbuh di sekitar area kewanitaan. Munculnya organisme ini dikarenakan oleh beberapa hal sebagai berikut:

1. Kondisi area sekitar vagina yang selalu lembab

 

penyebab keputihan
Gambar dari sasthoseba.com

Kelembaban yang meningkat pada area kewanitaan dapat memicu tumbuhnya organisme seperti jamur yang dapat menginfeksi vagina. Kondisi yang dapat meningkatkan kelembaban daerah sekitar vagina, yaitu:

  • Tidak membersihkan area kewanitaan sampai kering setelah mandi atau buang air
  • Tidak mengganti celana dalam meskipun basah karena keringat
  • Penggunaan celana yang terlalu ketat dalam jangka waktu yang lama

2. Area vagina yang tidak bersih

Area vagina yang tidak bersih dapat mendatangkan kuman baru yang dapat menyebabkan keputihan baik dalam bentuk bakteri ataupun jamur.

3. Penggunaan pantyliner dalam jangka waktu lama

penyebab keputihan
Gambar dari www.ladycarehealth.com

Sebagian besar wanita memilih menggunakan pantyliner ketika mereka mengalami keputihan. Padahal hal ini justru dapat membuat keputihan tidak kunjung usai. Pantyliner dapat menyerap keputihan yang keluar dan membuat pemakainya merasa tetap kering. Hal ini membuat para wanita enggan untuk mengganti pantyliner mereka seharian dan menyebabkan bakteri menjadi semakin menumpuk di sana.

Jenis-jenis keputihan

Seperti yang telah dipaparkan di atas, keputihan terdiri dari 2 jenis, yaitu:

1. Keputihan normal/ fisiologis

Keputihan yang normal/fisologis adalah keputihan yang muncul saat menjelang menstruasi atau sesaat setelah siklus menstruasi selesai. Keputihan ini terjadi karena pengaruh hormon yag meningkatkan lendir di mulut rahim sesaat menjelang menstruasi.

Dan seusai menstruasi, keputihan bekerja sebagai ‘cairan pembersih’ sisa darah menstruasi. Selain itu, pada puncak masa subur wanita, keputihan juga dapat terjadi karena ovulasi (keluarnya sel telur)yang terjadi. Keputihan dikatakan normal bila warnanya putih atau bening, tidak berbau, dan tidak menyebabkan gatal pada area kewanitaan.

2. Keputihan yang diakibatkan oleh penyakit/ patologis

Keputihan yang diakibatkan oleh penyakit / keputihan patologis adalah keputihan yang muncul karena adanya infeksi organisme tertentu seperti bakteri dan jamur. Pada keputihan patologis lendir yang keluar dari vagina berwarna kuning/hijau, berbau amis/busuk, dan dapat menimbulkan rasa gatal pada daerah sekitar kewanitaan.

Organisme yang menyebabkan keputihan

Keputihan patologis disebabkan oleh infeksi bakteri dan jamur. Organisme yang paling sering menyebabkan keputihan, yaitu:

1. Bacterial vaginosis

Bacterial vaginosis adalah bakteri yang paling sering menyebabkan keputihan. Kondisi ini disebabkan karena adanya ketidakseimbangan pertumbuhan bakteri di daerah sekitar vagina. Dalam kondisi normal, daerah sekitar vagina wanita memang memiliki bakteri yang berfungsi sebagai flora normal untuk mencegah adanya bakteri atau jamur lain yang hendak menginfeksi.

Namun, ketika jumlah flora normal menjadi lebih sedikit, bakteri vaginosis akan mudah menginvasi dan menginfeksi vagina. Turunnya flora normal dapat disebabkan oleh penggunaan sabun pembersih area kewanitaan yang dapat membunuh flora normal tersebut. Keputihan karena bakteri ini menimbulkan lendir yang berwarna putih keabu-abuan dengan bau yang amis.

2. Trichomonas vaginalis

Bakteri trichomonas menghasilkan keputihan berwarna kuning kehijauan dengan bau tajam yang menusuk. Keputihan karena bakteri ini sering diikuti dengan gejala lain seperti rasa gatal dan panas pada area vagina, rasa tidak nyaman saat berkemih, serta menimbulkan sedikit rasa nyeri ketika berhubungan seksual.

3. Neisseria gonorrhoeae

Pada awalnya keputihan karena gonorrhea tidak menimbulkan gejala yang khas. Namun, semakin bakteri tersebut berkembang biak, keputihan akan berubah warna menjadi kuning dan menimbulkan kemerahan serta bengkak pada area sekitar vagina. Selain itu, gonorrhea juga menimbulkan rasa panas seperti terbakar dan gatal di sekitar vagina serta mulai mengganggu sistem perkemihan.

4. Chlamydia trachomatis

Keputihan karena bakteri Chlamydia hampir mirip dengan gonorrhea yaitu tidak bergejala pada awalnya. Namun, pada tahap selanjutnya bakteri Chlamydia akan menyebabkan keputihan yang berwarna kuning dan berbau tidak enak.

5. Candida sp.

Candida sp. adalah jenis jamur yang paling sering menimbulkan keputihan. Keputihan yang muncul memiliki ciri-ciri lendir berwarna putih, kental, dan kadang tampak seperti keju. Keputihan karena jamur biasanya tidak berbau, sehingga sulit dibedakan dengan keputihan fisiologis.

Namun demikian, keputihan karena infeksi jamur sering menyebabkan gatal pada derah kewanitaan, rasa terbakar dan juga nyeri saat berkemih atau saat berhubungan seksual. Jamur dapat berkembang pada area sekitar vagina karena tingkat kelembaban yang terlalu tinggi pada area tersebut dan karena rendahnya flora normal yang ada. Hal ini dapat terjadi semisal pada penggunaan antibiotik yang membunuh flora normal.

Keputihan yang disebabkan karena Trichomoniasis, Gonorrhea, dan Chlamydia dapat menjadi penyakit menular seksual yang harus diwaspadai dan perlu penanganan segera.

Cara mencegah keputihan

Keputihan yang normal atau keputihan fisiologis tidak dapat dicegah karena kondisi tersebut adalah hal yang normal dan wajar terjadi. Namun, keputihan fisiologis dapat berlanjut menjadi keputihan patologis karena sebab-sebab yang telah dijelaskan di atas. Keputihan patologis inilah yang dapat dan wajib dicegah. Berikut cara-cara mencegah keputihan patologis:

1. Menjaga kebersihan daerah kewanitaan

membersihkan area kewanitaan
Gambar dari atusaludenlinea.com

Menjaga kebersihan daerah kewanitaan adalah hal yang wajib dilakukan oleh seluruh kaum hawa. Hal ini perlu dilakukan terutama setelah buang air di mana kuman dapat saja masuk. Hal yang paling tepat dalam membersihkan area kewanitaan adalah dengan menggunakan air mengalir tanpa harus menggunakan sabun khusus pembersih vagina.

2. Membatasi penggunaan sabun pembersih khusus

Memakai sabun khusus untuk membersihkan area kewanitaan tidak disarankan untuk rutin dilakukan, karena dapat membunuh flora normal yang terdapat di sekitar vagina. Jika flora normal mati, kesempatan kuman lain untuk tinggal bersarang semakin besar dan akan menimbulkan keputihan.

Oleh karena itu, penggunaan sabun pembersih khusus hanya boleh dilakukan sesekali semisal dalam kondisi area vagina gatal. Namun, lebih baik menggunakan betadine yang diencerkan untuk memberikan efek antiseptik pada area kewanitaan daripada menggunakan sabun pembersih khusus yang dapat merubah kondisi pH di daerah kewanitaan.

3. Menjaga daerah kewanitaan selalu kering

jaga agar tetap kering
Gambar dari health.detik.com

Memastikan daerah kewanitaan selalu dalam kondisi kering adalah cara ampuh untuk mencegah keputihan berlanjut. Sangat disarankan untuk mengganti celana dalam ketika sudah mulai basah atau lembab baik karena keringat atau karena bilasan air sehabis buang air yang tidak dilap dengan cukup kering.

4. Membatasi penggunaan pantyiner

Jika anda memang memerlukan pantyliner karena keputihan fisiologis, anda harus lebih sering mengganti pantyliner anda tersebut setiap kali anda buang air kecil.

Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah penumpukan keputihan yang tak kasat mata karena terserap oleh pantyliner. Pilih patyliner yang tidak berparfum dan segera hentikan pemakaian jika keputihan sudah dirasa semakin berkurang.

Segera periksakan diri ke dokter jika anda menemukan bahwa keputihan anda mulai berubah warna, menimbulkan bau atau menyebabkan gejala lain di sekitar area kewanitaan anda.

loading...

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*