Fix! Sri Mulyani Pastikan Indonesia Alami Resesi Akibat Pandemi

Sri Mulyani Indonesia Resesi
Sri Mulyani (Wikipedia)

Indonesia dipastikan masuk zona resesi setelah Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal III/2020 yang diperkirakan minus 3,9 persen – minus 1,0 persen. Angka ini sendiri direvisi dari proyeksi sebelumnya yakni minus 1,1 persen hingga positif 0.2 persen.

Indonesia Resesi

Sri Mulyani mengadakan konfrensi pers APBN Kita September secara virtual pada Selasa, 22 September 2020. Di sini Sri Mulyani menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 diperkirakan minus 2,9 persen – minus 1,0 persen yang menandakan bahwa Indonesia sudah masuk ke jurang resesi.

Baca Juga: Pemprov Bagikan Bansos ke 2,4 Juta KK di Jakarta, Ini Jadwal Distribusinya

“Yang terbaru, per September 2020 ini, (pertumbuhan ekonomi) minus 2,9 persen-minus 1,0 persen. Negatif teritori pada kuartal III ini akan berlangsung di kuartal keempat,” buka Sri Mulyani seperti dilansir Bisnis.com.

Lebih lanjut Sri Mulyani menjelaskan dari sisi permintaan di kuartal III/2020 konsumsi rumah tangga masyarakat masih diperkirakan pada zona kontraksi yaitu minus 3 persen hingga minus 1,5 persen dengan total outlook 2020 konsumsi Indonesia berada pada kisaran kontraksi minus 2,1 persen hingga minus 1 persen. Sementara pada konsumsi Pemerintah pada Kuartal III positif 17 persen yang didorong oleh kebijakan belanja atau ekspansi sebagai cara untuk counter cyclical.

“Untuk konsumsi Pemerintah di Kuartal III karena akselerasi belanja (pengeluaran) yang luar biasa maka mengalalmi positif yang sangat tinggi hingga 17%,” sambung Sri Mulyani.

Sri Mulyani melihat aktifitas pariwisata masih rendah sehingga menekan sektor perhotelan dan transportasi. Sementara dari segi investasi terlihat sedikit lebih baik dari sebelumnya meski masih lemah.

Baca Juga: Geger Penemuan 5 Mayat ABK di Freezer Kapal Nelayan Indonesia

Berikut ini rincian outlook indikator pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2020 yaitu, Konsumsi Rumah Tangga/LNPRT: Kontraksi minus 3 persen hingga minus 1,5 persen, Konsumsi Pemerintah: Positif 9,8 persen hingga 17 persen, Investasi/PMTB: Kontraksi minus 8,5 persen hingga minus 6,6 persen dan Ekspor: Kontraksi minus 13,9 persen hingga minus 8,7 persen.

“Kalau kita lihat institusi yang lakukan forecast ke pertumbuhan ekonomi Indonesia, mereka rata-rata memproyeksikan ekonimi Indonesia di tahun 2020 ini semua berada di zona negatif kecuali World Bank (Bank Dunia) yang (memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia) 0 persen. Negatif territory terjadi pada kuartal III dan kemungkinan masih berlangsung pada kuartal IV yang kita (Pemerintah) masih berusaha agar mendekati nol atau positif,” pungkas Sri Mulyani

 

Leave a Reply